menemukan kebahagian subjektif


Pernah nggak sih ngrasain rasanya kosong? Iya, sepertinya baru kemarin kita punya bayangan tentang masa depan kita dan sekarang mendadak hilang. Yang pastinya kosong dalam artian kita nggak punya lagi bayangan ke depan, tentang dengan siapa kita menghabiskan hidup. Sepertinya, ini karena aku baru putus. Aku bukannya galau karena aku putus. Sebenarnya dari dulu aku nggak punya definisi galau itu seperti apa. Kalau yang di bilang galau itu aku harus nangis dan gak nafsu makan gara-gara putus, oke fix aku nggak pernah galau. Aku hanya merasa kosong, karena mungkin waktu menjalin hubungan sama seseorang aku selalu berekspektasi tinggi. Aku selalu membayangkan bagaimana kehidupanku berlangsung dengan melibatkan seseorang itu dalam rencanaku. Akibatnya setelah aku putus, aku seperti kehilangan sesuatu dari yang biasa aku pikirkan tentang masa depan. Malah kadang waktu aku berangkat kuliah, aku memikirkan tentang belumnya aku memiliki tujuan yang baru untuk kedepannya. Ya balik lagi, semua tujuan yang lama ada si mantan itu. buat tujuan baru? Halah yang ada aku Cuma melakukan rasionalisasi (alibi) dan sebagian tujuan yang baru aku rancang berisi dendam-dendam terselebung buat si mantan. Contohnya nih ya, setelah putus ini aku mau jadi orang yang bertekun di passion ku biar nanti kalu dilihat mantanku itu, aku berasa diatas awan. Intinya tujuanku yang sebenarnya adalah terlihat bahagia dengan pilihanku dan kejombloanku. Memang terlihat keren, tapi sesungguhnya itu tujuan nggak bekerja sama sekali. Aku merasa dengan tujuan itu, aku menutupi semua kekuranganku agar terlihat sempurna, percayalah itu nggak sehat buat batin kita. Iya sih memang kita terlihat sempurna(menurut pemikiran kita) tapi yah lama-lama depresi juga. Akhirnya aku berusaha merubah itu semua (dan sampi sekarang belum berhasil) dengan mencoba self-care dulu, jadi aku cari sesuatu yang buat aku seneng, sepele sihh tapi menurutku aku bisa mulai dengan hal sepele seperti itu. setelah aku menemukan hal yang aku suka, contohnya aku sekarang suka banget jalan sama temenku, berbagi cerita sama mereka, sama punya cita-cita bareng gitu. Bisa aja orang lain juga punya cara lain yang gak sama seperti aku, yang mereka sukai. Tapi dari sini aku mulai mencari apalagi yang bikin aku sehat secara mental dulu. Kemudian aku berusaha menyusun sedikit-dikit cita-cita yang ingin aku capai, lagi-lagi aku harus berusaha menepis keinginan buat balas dendam atau menunjukkan kegigihanku ke si mantan.


Akhirnya aku putusin buat fokus ke kuliahku dengan tujuan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan tentunya sesuai dengan yang aku sukai (pas banget jurusanku kuliah, sudah ku sukai sejak pertama masuk) dan tentunya orang tualah ya yang jadi motivasi terbesar. Sampai tahap ini aja aku sudah merasakan hidupku lebih tenang, berasa lebih bersyukur aja. Aku merasa lebih hidup dan lebih berkembang. Melakukan sesuatu berdasarkan keinginan sendiri, tanpa ada embel-embel pamer ke mantan hahaha. Bonusnya entah pengaruhnya dimana, aku semakin dekat dengan Tuhan. Aku jadi lebih ikhlas dengan jalan hidupku, kemana Tuhan akan menuntunku aku merasa siap J
Semoga aku yang dulu masih melakukan apa-apa dengan embel-embel alasan orang lain, kini lebih bisa melakukan apa-apa karena diriku sendiri dan dituntun oleh Tuhan yang begitu luar biasa.
Terima kasih

Komentar