How to Survive Skripsweet : Sebuah pengalaman pribadi
Pengalamanku tentang skripsi..
wkwk..
apa ya.. menarik sih enggak, nyesek iya banget..
Tapi... ada makna yang bisa dipetik always (ini aku lagi mau ketemu dosen yang alamat revisi bakal banyak).
pas semester-semester belum mencium bau skripsi, sepertinya ujian skripsi menjadi hantu tersendiri di setiap akan menjelang tidur (kalau pas inget). Tapi sampai disini setelah melewati beribu-ribu revisi dan penolakan dari dosen untuk accept sidang, hemmm bau-bau sidang menyeramkan sudah terganti dengan kejenuhan hakiki.
Perlu diketahui, aku memulai Seminar Proposal itu sekitar bulan Agustus 2018. Aku mengajukan judul ini dan itu, di accept but not at all. Subjek dan metode boleh, tapi tidak dengan variabel. Mengajukan proposal bolak-balik ganti teori, Dosen tetep menerima tanpa komentar berarti. eitzz bukan berarti itu acc ya, tapi masih menggantung. Di tanya ini dan itu, dijawab dipertahankan sampai tahap pembuatan instrumen (wuaahh mulus yaaa). Saatnyalah sidang proposal, presentasi depan dosen yang sedang sibuk menelepon. Tetep maju dengan harapan, semester depan melanjutkan topik di proposal.
Eh di akhir sidang proposal, dosennya bilang "variabelnya masih kurang kuat dengan latar belakang penelitian", Oh God, itu artinya teman-teman.. satu semester berlalu begitu saja tanpa ada kemajuan di skripsi. Oke.. jadi harus ada pemulihan hati dong dari rasa kecewa.. "masih ada waktu" kataku waktu itu.. Saatnya bekerja keras, cari teori yang nyambung dengan subjek yang aku ambil, oke teori sudah ketemu, mencari lagi alasan-alasan yang memperkuat pengambilan sampel. Itu aku lakukan saat sudah berada di semester 8. Bolak-balik revisi latar belakang, hasilnya masih tetap ada yang kurang. Kurang SPOK, kurang literatur, kurang parafrase, bla bla bla. Sampai diputuskan aku boleh mengambil data di lapangan, sedikit angin segarrrrrr... tapi tetap ada embel-embel akan dibenahi di belakang kekurangan-kekurangan yang ada di karya ilmiahku.
Sudah turlap, sudah transkrip data, disuruhlah ngerjain sampe bab 4 (sebelum kesimpulan) wahh bahagia duooong aku kerjain tidak ada satu minggu, aku kumpulin sambil senyum-senyum sepanjang jalan.
wuahhhh kejutan datang lagi... Dosen minta mundur buat bahas latar belakang dan metode, mati dong yaaa... padahal itu sudah di tengah-tengah semester. gilaaa mana bisa terkejar dong.
rasanya campur aduk.. kecewa pasti, tapi kecewa dengan siapa? aku sudah berusaha keras (menurutku), dosenku juga sudah membimbing (meskipun agak ruwet). tapi tetap aja ada rasa kecewa, mungkin karena ekspektasi terlalu tinggi, teman-teman sudah mulai ada yang lulus, dan tidak adanya kemajuan dalam karya ku.
Sampailah pada kesepakatan akhir di bab 1 dan 2, lanjut bab 3 setelah revisi yang ulalalala.. bab 3 dan bab 4 dikerjakan ulang, masih salah.
mundur ke data mentah..
ini sudah memasuki semester pendek, artinya kurang 3 minggu semester akan berakhir, begitu juga hidupku (eh skripsiku).
Entah sampai kapan drama ini berlanjut, Dosen belum mau menyetujui untuk sidang, sementara aku merasa sudah melakukan apa yang beliau minta.
Dalam perjalananku yang rumit terkait skripsi, banyak hal yang aku pikirkan ulang (membentuk makna baru).
Aku baru tau rasanya orang berproses, tidak menghianati hasil
Tuhan selalu ada bersamaku, walaupun hariku begitu suram.
Tuhan berusaha menajarkan sesuatu dari perjalananku ini, dan terus mengajariku sampai aku mengerti apa yang dimaksud olehnya.
Setiap orang mempunyai jalan masing-masing, hanya Tuhan yang tau kejutan apa yang telah Dia persiapkan.
TEMAN YANG LULUS DULUAN, AKAN TETAP MENJADI TEMAN ~ (yang paling nyata sekarang)
oh iya, ada lagiiiii.. universitasku lagi proses akreditas astagaaa.. jadi meskipun aku lulus semester pendek ini, ijazah akan keluar setelah akreditas keluar dari dikti. oke. sudah paham?
Perjalanan memang tidak selalu mulus gaisss, tapi pastikan kamu mempelajari sesuatu dari setiap kejadian :)
In the end, aku merasa lelah iya, sakit hati iya, kecewa banyak, tapi aku beruntung Tuhan selalu baik denganku, melingkupi dengan orang-orang baik. Yang aku usahakan sekarang adalah, menghadapi apapun itu, bukan lari, bukan menghindar. aku terus mengusahakan yang terbaik dari diriku, untuk Tuhan.
thank you next...
wkwk..
apa ya.. menarik sih enggak, nyesek iya banget..
Tapi... ada makna yang bisa dipetik always (ini aku lagi mau ketemu dosen yang alamat revisi bakal banyak).
pas semester-semester belum mencium bau skripsi, sepertinya ujian skripsi menjadi hantu tersendiri di setiap akan menjelang tidur (kalau pas inget). Tapi sampai disini setelah melewati beribu-ribu revisi dan penolakan dari dosen untuk accept sidang, hemmm bau-bau sidang menyeramkan sudah terganti dengan kejenuhan hakiki.
Perlu diketahui, aku memulai Seminar Proposal itu sekitar bulan Agustus 2018. Aku mengajukan judul ini dan itu, di accept but not at all. Subjek dan metode boleh, tapi tidak dengan variabel. Mengajukan proposal bolak-balik ganti teori, Dosen tetep menerima tanpa komentar berarti. eitzz bukan berarti itu acc ya, tapi masih menggantung. Di tanya ini dan itu, dijawab dipertahankan sampai tahap pembuatan instrumen (wuaahh mulus yaaa). Saatnyalah sidang proposal, presentasi depan dosen yang sedang sibuk menelepon. Tetep maju dengan harapan, semester depan melanjutkan topik di proposal.
Eh di akhir sidang proposal, dosennya bilang "variabelnya masih kurang kuat dengan latar belakang penelitian", Oh God, itu artinya teman-teman.. satu semester berlalu begitu saja tanpa ada kemajuan di skripsi. Oke.. jadi harus ada pemulihan hati dong dari rasa kecewa.. "masih ada waktu" kataku waktu itu.. Saatnya bekerja keras, cari teori yang nyambung dengan subjek yang aku ambil, oke teori sudah ketemu, mencari lagi alasan-alasan yang memperkuat pengambilan sampel. Itu aku lakukan saat sudah berada di semester 8. Bolak-balik revisi latar belakang, hasilnya masih tetap ada yang kurang. Kurang SPOK, kurang literatur, kurang parafrase, bla bla bla. Sampai diputuskan aku boleh mengambil data di lapangan, sedikit angin segarrrrrr... tapi tetap ada embel-embel akan dibenahi di belakang kekurangan-kekurangan yang ada di karya ilmiahku.
Sudah turlap, sudah transkrip data, disuruhlah ngerjain sampe bab 4 (sebelum kesimpulan) wahh bahagia duooong aku kerjain tidak ada satu minggu, aku kumpulin sambil senyum-senyum sepanjang jalan.
wuahhhh kejutan datang lagi... Dosen minta mundur buat bahas latar belakang dan metode, mati dong yaaa... padahal itu sudah di tengah-tengah semester. gilaaa mana bisa terkejar dong.
rasanya campur aduk.. kecewa pasti, tapi kecewa dengan siapa? aku sudah berusaha keras (menurutku), dosenku juga sudah membimbing (meskipun agak ruwet). tapi tetap aja ada rasa kecewa, mungkin karena ekspektasi terlalu tinggi, teman-teman sudah mulai ada yang lulus, dan tidak adanya kemajuan dalam karya ku.
Sampailah pada kesepakatan akhir di bab 1 dan 2, lanjut bab 3 setelah revisi yang ulalalala.. bab 3 dan bab 4 dikerjakan ulang, masih salah.
mundur ke data mentah..
ini sudah memasuki semester pendek, artinya kurang 3 minggu semester akan berakhir, begitu juga hidupku (eh skripsiku).
Entah sampai kapan drama ini berlanjut, Dosen belum mau menyetujui untuk sidang, sementara aku merasa sudah melakukan apa yang beliau minta.
Dalam perjalananku yang rumit terkait skripsi, banyak hal yang aku pikirkan ulang (membentuk makna baru).
Aku baru tau rasanya orang berproses, tidak menghianati hasil
Tuhan selalu ada bersamaku, walaupun hariku begitu suram.
Tuhan berusaha menajarkan sesuatu dari perjalananku ini, dan terus mengajariku sampai aku mengerti apa yang dimaksud olehnya.
Setiap orang mempunyai jalan masing-masing, hanya Tuhan yang tau kejutan apa yang telah Dia persiapkan.
TEMAN YANG LULUS DULUAN, AKAN TETAP MENJADI TEMAN ~ (yang paling nyata sekarang)
oh iya, ada lagiiiii.. universitasku lagi proses akreditas astagaaa.. jadi meskipun aku lulus semester pendek ini, ijazah akan keluar setelah akreditas keluar dari dikti. oke. sudah paham?
Perjalanan memang tidak selalu mulus gaisss, tapi pastikan kamu mempelajari sesuatu dari setiap kejadian :)
In the end, aku merasa lelah iya, sakit hati iya, kecewa banyak, tapi aku beruntung Tuhan selalu baik denganku, melingkupi dengan orang-orang baik. Yang aku usahakan sekarang adalah, menghadapi apapun itu, bukan lari, bukan menghindar. aku terus mengusahakan yang terbaik dari diriku, untuk Tuhan.
thank you next...
Komentar
Posting Komentar